Waktu Berkunjung Di Atas Candi Borobudur Akan Dibatasi

Waktu Berkunjung Di Atas Candi Borobudur Akan Dibatasi

MAGELANG, KOMPAS.com – Pengelola Candi Borobudur bakal membatasi waktu kunjungan wisatawan di atas candi. Hal ini sebagai upaya mempertahankan kelestarian candi peninggalan Raja Samaratungga pada dinasti Syailendra itu di masa yg mulai datang.

Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (TWCPRB) Edi Setijono menjelaskan candi Buddha yg terletak di Kabupaten Magelag, Jawa Tengah, itu bukan cuma sebagai destinasi wisata namun juga cagar budaya yg harus tetap dipertahankan keberadaannya.

“Kami tak membatasi jumlah wisatawan namun cuma limitasi waktu kunjungan, kira-kira 30-40 menit di atas candi. Ini menjadi bagian dari strategi konservasi Candi Borobudur,” ujar Edi, di Borobudur, Jumat (30/12/2016).

Ke depan, menurut Edi, pihaknya mulai memasang teknologi terbaru yg secara online bisa mengawasi aktivitas wisatawan. Teknologi berbentuk chip ini mulai dipasang di dua titik di dinding Candi Borobudur.

Di dua lokasi wisata, lanjut Edi, telah menerapkan teknologi ini namun masih offline. Sedangkan di Candi Borobudur mulai menggunakan teknologi online yg dapat terintegrasi dengan ponsel android.

“Saat ini masih dalam pengkajian, doakan langsung terealisasi. Kami juga mulai perbarui museum Borobudur dan lainnya sehingga wisatawan belajar tentang Borobudur di museum,” ucap Edi.

Direktur Pemasaran dan Kerjasama PT TWCPRB Ricky Siahaan mengutarakan chip ini mulai ditempelkan di titik tertentu yg tak kelihatan orang. Chip ini dapat memancarkan gelombang ke gadget wisatawan.

Setiap wisatawan bisa mengunduh teknologi ini yg telah berwujud aplikasi melalui gadget masing-masing. Wisatawan mulai mengetahui seluruh keterangan dan petunjuk Candi Borobudur melalui aplikasi ini (digital guide).

“Ketika wisatawan masuk Candi Borobudur dan mengaktifkan aplikasi ini maka dia mulai mengetahui existing-nya (keberadaan) atau posisinya sedang ada di mana. (Aplikasi) Ini mulai dilengkapi layanan 27 bahasa. Jadi kalau wisatawan dari Rusia maka dia dapat memilih dan keluar keterangan dalam bahasa Rusia,” papar Ricky.

Pihaknya berharap, tahun 2017 teknologi ini mulai langsung diterapkan. Tim ahli dari Austria mulai tiba ke Candi Borobudur buat selalu melakukan simulasi selama beberapa bulan. 

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *