Transit Di Bandara Dubai? Manfaatkan “Stopover” Dan Jelajahi Dubai

Transit Di Bandara Dubai? Manfaatkan “Stopover” Dan Jelajahi Dubai

DUBAI, KOMPAS.com – “Eh, gue pernah ke Dubai, tetapi hanya di bandaranya,” sahut Rifki, sambil tertawa. Rifki bukan satu-satunya orang Indonesia yg ke kota Dubai, Uni Emirat Arab, cuma di bandara saja.

Dari lima orang teman dan rekan kerja penulis yg pernah ke Dubai, kelimanya mengaku cuma berada di Bandara Dubai bagi transit dan menunggu pesawat berikutnya. Tak heran, Dubai yaitu kota transit untuk wisatawan Indonesia.

Bandara Dubai adalah hub yg menghubungkan Indonesia ke negara-negara di Eropa, Afrika, hingga Amerika. Salah sesuatu maskapai penerbangan yg kerap digunakan orang Indonesia merupakan Emirates, memiliki penerbangan dari Jakarta dan Bali menuju berbagai negara di dunia dengan transit di Bandara Dubai.

(BACA: Jalan-jalan ke Dubai, Mampiri 3 Tempat Ini)

Emirates sendiri yaitu penerbangan yang berasal Uni Emirat Arab. Tentu saja Dubai pun menjadi homebase maskapai ini. Wisatawan Indonesia kerap harus menghabiskan waktu berjam-jam di Bandara Dubai menunggu penerbangan koneksi berikutnya.

KOMPAS.com/NI LUH MADE PERTIWI F Palm Jumeirah Monorail di Dubai. Dari sini turis menikmati pemandangan kawasan Palm Jumeirah.

Namun sebenarnya wisatawan mampu saja memanfaatkan stopover yg ditawarkan Emirates. Jika memakai stopover ini, wisatawan mampu keluar dari Bandara Dubai dan menjelajahi kota Dubai. Nah, kira-kira perlu berapa hari buat menjelajahi kota Dubai?

“Saya rasa tiga hari cukup bagi mengenal Dubai pertama kali,” kata Kevin Cole, Public Relations Manager Emirates, kepada KompasTravel, ketika ditemui di markas Emirates di Dubai, Uni Emirat Arab, akhir November lalu.

Ia mengakui bahwa Dubai lebih dikenal sebagai destinasi transit dibanding sebagai destinasi penting yg dituju. Namun ia melihat belakangan akan banyak penumpang Emirates memanfaatkan fasilitas stopover buat menjelajahi kota Dubai.

Fasilitas stopover biasa ditawarkan maskapai penerbangan buat singgah sejenak di negara transit yg menjadi homebase maskapai tersebut. Waktu singgah tersebut mampu dimanfaatkan buat menjelajahi destinasi transit tersebut. Lamanya mampu dari 24 jam hingga dua hari, biasanya tak lebih dari tiga hari.

Kompas.com/Ni Luh Made Pertiwi F. Cincin terbesar di dunia

Dengan fasilitas stopover, wisatawan mampu menjelajahi tempat-tempat wisata di kota transit sebelum melanjutkan ke negara tujuan utama. Misalnya dari Jakarta ke Amsterdam, Anda transit di Dubai dan manfaatkan stopover selama tiga hari bagi keluar dari Bandara Dubai dan menjelajahi kota ini.

Tentu ada harganya buat memanfaatkan fasilitas ini. Namun, terbilang murah karena ini ibaratnya tepok beberapa negara dalam sesuatu perjalanan. Untuk wisatawan Indonesia, pastikan Anda memiliki visa transit 96 jam.

Khusus penumpang Emirates, Anda dapat melakukan pengajuan visa transit mampu melalui situs resmi Emirates. Emirates mulai bertindak sebagai semacam “sponsor” bagi kemudahan mendapatkan visa.

Sebenarnya, Emirates juga menyediakan fasilitas Dubai Connect. Jika penumpang harus menunggu di atas 8 jam, pihak Emirates mulai menyediakan hotel, makan, antar jemput, termasuk visa secara gratis. Tentu, sebelumnya penumpang perlu memesannya terlebih dahulu.

KOMPAS.com/NI LUH MADE PERTIWI F Burj Al Arab adalah sebuah hotel mewah di Dubai, Uni Emirat Arab.

Seperti saran Kevin, Anda dapat stopover selama tiga hari. Lalu ke mana saja selama tiga hari? Hari pertama cobalah mengelilingi kota dengan menggabungkan unsur old city dan new city.

New city artinya melihat sisi modern Dubai. Kunjungan dapat ke Dubai Marina, Palm Jumeirah,  Burj Al Arab, hingga ke Dubai Mall dan Burj Khalifa. Sebaliknya, unsur Dubai dengan wajah tradisional alias old city mampu Gold Shouk, Spices Shouk, Dubai Creek, hingga ke kawasan Bastakiya.
Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *