Tony Parker Di Puncak Eropa

Tony Parker Di Puncak Eropa

SETELAH selesai makan pagi di hotel, kalian berjalan menuju Interlaken Ost, salah sesuatu stasiun kereta api di kota Interlaken, Swiss. Udara pagi itu sekitar 16 derajat celsius, terasa sejuk ditingkahi sepoi angin dingin dan hangatnya sinar matahari. Sekitar 5 menit kemudian, pukul 08.30 setempat, kita datang di stasiun.

”Sudah bersiap ke puncak Eropa? Pakai baju berapa lapis? Saya pakai beberapa lapis, ditambah jaket dan sarung tangan ini, karena udara di atas sangat dingin,” kata Pen Tiyawarakul, Perwakilan Jungfrau Railway di Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam pertengahan September lalu, sambil memamerkan jaket dan sarung tangan musim dingin yg dibawanya.

Ya, hari itu, kita rombongan wartawan dari sejumlah negara hendak ke Jungfraujoch, tempat wisata dan stasiun riset ilmiah di Pegunungan Alpen yg berada di ketinggian 3.454 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kami diundang bagi menonton pertandingan bola basket dengan bintang penting Tony Parker. Sebagai orang yg tinggal di negara tropis, aku dan dua wartawan dari Asia Tenggara mengenakan pakaian berlapis beberapa plus membawa jaket musim dingin.

Pukul 08.35 waktu setempat, kereta api listrik yg mulai membawa kalian ke Stasiun Lauterbrunnen pun tiba. Pendakian kalian dari Interlaken yg berada di ketinggian 570 mdpl menuju Jungfraujoch memakai kereta api harus melewati beberapa stasiun, merupakan Lauterbrunnen (795 mdpl) dan Kleine Scheidegg (2.061 mdpl).

Sepanjang perjalanan selama sekitar 1 jam tersebut, kalian dimanjakan dengan pemandangan hamparan rumput hijau di Pegunungan Alpen dan juga rumah-rumah tradisional penduduk setempat.

Mark Rufibach dari Jungfrau Tourism menjelaskan mengenai pariwisata di Pegunungan Alpen yg menjadi andalan Swiss, termasuk kawasan pedesaan dengan rumah-rumah tradisionalnya tersebut.

Awalnya, kata Mark, andalan penting pariwisata di Pegunungan Alpen adalah tawaran bagi bermain ski di sejumlah puncak pegunungan yg memiliki salju abadi, seperti Jungfraujoch, juga di lereng pegunungan yg di ketika musim dingin tertutup salju tebal.

Namun, kini akibat dampak perubahan iklim yg menyebabkan musim dingin lebih pendek, pariwisata musim panas semakin banyak diminati.

”Musim salju sekarang lebih pendek dan saljunya juga lebih sedikit. Sering kali kalian harus mengerahkan mesin pembuat salju karena salju bagi ski berkurang. Wisatawan pun akan banyak bergeser ke musim panas seperti ketika ini,” katanya.

Dan, memang, dari jendela kereta api kalian dua kali menjumpai dua wisatawan tengah hiking atau berjalan kaki di kawasan pedesaan di kanan-kiri rel kereta api.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *