Napak Tilas Arung Palakka Menuju Tanah Buton

Napak Tilas Arung Palakka Menuju Tanah Buton

BAUBAU, KOMPAS.com – Sinar matahari di pagi hari begitu menyenangkan, seakan memberikan kehangatan untuk siapa saja yg disinarinya. Di sebuah pelabuhan yg tak terlalu besar, kelihatan dua orang berlalu lalang dengan kesibukannya.

Dari kejauhan, kelihatan sebuah kapal bergerak mendekat menuju ke pelabuhan. Tak lama kemudian, turunlah sesosok laki-laki dengan tubuh yg tegap dan berambut panjang dari kapal. Di kepala laki-laki tersebut terdapat pengikat sambil memegang tombak panjang sekitar beberapa meter di tangan kanannya.

Di belakangnya, turun pula dua pemuda dengan memakai pakaian adat Bugis, Sulawesi Selatan. Rombongan tersebut kemudian berjalan kaki menelusuri jalan-jalan menuju ke Benteng Keraton Kesultanan Buton.

(BACA: Napak Tilas Arung Palaka Menuju Takimpo di Buton)

Rombongan yg berjalan kaki ini menjadi perhatian warga sekitar yg berusaha buat melihat lebih dekat lagi. Rombongan tersebut dipimpin laki-laki yg bertubuh tegap tadi sambil membawa tombak.

Siapa laki-laki itu? Dia adalah seorang tokoh bangsawan Bugis yg bernama Arung Palakka yg melakukan perjalanan dari Bone menuju ke tanah Buton.

Ini yaitu perjalanan Napak Tilas Arung Palakka yg dikerjakan Pemerintah Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dengan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Rabu (28/12/2016).

Dalam perjalanan napak tilas tersebut, rombongan Arung Palakka yg diperankan seorang laki-laki yang lain berjalan kaki sejauh 6 kilometer dari Pelabuhan Batu Kota Baubau. Di dalam rombongan tersebut juga terdapat Bupati Bone Andi Fashar M Padjalangi.

Rombongan napak tilas juga berjalan menuju tempat goa Arung Palakka yg terdapat di Benteng Keraton Kesultanan Buton. Goa tersebut yaitu persembunyian Arung Palakka dari kejaran pasukan Kerajaan Gowa, Sultan Hasanuddin.

“Namanya juga napak tilas, ekspresi yg pernah dikerjakan ada norma dan nilai yg dikerjakan dari perjalanan ini.  Ini napak tilas yg besar untuk kalian di Bone. Itu terbukti bahwa Arung Palakka selama tiga tahun di sini dulu kemudian ia menjadi raja,” kata Andi Fashar M Padjalangi.

Berdasarkan sumber sejarah, perjalanan Raja Bone, Arung Palakka ini terjadi sejak 335 tahun yg lalu. Perjalanan ini terjadi ketika ia belum menjadi raja di tahun tahun 1660 atau awal tahun 1661.

KOMPAS.com/DEFRIATNO NEKE Wali Kota Baubau, AS Thamrin (kiri) dan Bupati Bone, Andi Fashar M Padjalangi (kanan) mengikuti Napak Tilas Arung Palakka di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, Rabu (28/12/2016).

Kedatangan Arung Palakka tersebut disambut Sultan Buton XI Sultan Malik Sirullah. Menurut Wali Kota Baubau AS Thamrin, kegiatan napak tilas Arung Palakka ini sebagai bentuk persaudaraan dan kekompakan antara Kerajaan Bone dengan Kesultanan Buton.

“Ini perlu kami adopsi pada generasi muda sekarang. Beliau (Arung Palakka) mengatakan pesan-pesan kepada anak leluhurnya supaya tetap kompak dan menjaga persaudaraan,” kata Thamrin.

Adanya napak tilas ini diharapkan dapat mendatangkan wisatawan ke Kota Baubau dan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Dalam kegiatan napak tilas tersebut, Bupati Bone Andi Fashar M Padjalangi dan Wali Kota Baubau AS Thamrin menandatangani prasasti ‘Bone ri Lau-Butung ri Aja’ yg artinya Bone di Barat dan Buton di Timur.

Prasasti tersebut sebagai bukti bila kedua daerah itu adalah saudara dan saling menjaga sesuatu sama lain. Kegiatan napak tilas tersebut ditutup dengan melakukan ritual baca doa dengan adat Buton.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *