Musim Gugur Di London, Ini Yang Bisa Dilakukan Selama 24 Jam

Musim Gugur Di London, Ini Yang Bisa Dilakukan Selama 24 Jam

PERJALANAN darat sekitar 2,5 jam dari Birmingham ke London (sekitar 165 kilometer) terasa ringan. Tak dijumpainya kemacetan sepanjang perjalanan kecuali saat memasuki Kota London yg riuh, membuat badan tetap fit. Terlebih, ada gairah buat menjelajah London bagi pertama kali.

18 November 2016

Lalu lalang pejalan kaki yg bergegas, pesepeda yg beriringan di jalurnya, taksi hitam (black cab) yg sambung menyambung, dan bus tingkat merah menjadi pemandangan penting di sekitar Trafalgar Square yg akan gelap. Riuh, tapi nyaris tanpa kebisingan. Tidak terdengar suara klakson kendaraan yg dahulu lalang.

Semarak Trafalgar Square seperti memanggil-manggil ketika datang di hotel yg berjarak sekitar 100 meter di sisi selatannya. Setelah menaruh koper di kamar dan membawa payung, kaki seperti diberi sayap buat bergerak cepat di senja musim gugur yg murung.

17.00

Embusan angin di suhu 8 derajat Celsius tak menghambat keinginan menjelajah Kota London. Tidak banyaknya waktu jadi motivasi yang lain bagi bergegas dan lekas. Daftar tempat-tempat yg harus didatangi jadi prioritas.

Pertama, berjalan kaki dari Trafalgar Square ke arah barat menuju Big Ben, ikon London paling kuat. Bersamaan dengan ketergesaan orang di trotoar yg lapang, kaki melangkah di tapak yg basah karena gerimis. Banyak pemandangan menarik, tapi Big Ben dan jarumnya yg selalu bergerak terasa memanggil-manggil.

KOMPAS/ANTON WISNU NUGROHO Perjalanan dari Trafalgar Square menuju Portobello memakai bis tingkat adalah pilihan tepat menikmati London.

Tiba di depan Big Ben yg terletak di sisi utara Sungai Thames membuat banyak orang terdiam menatap, juga saya. Pukul 17.40 adalah ketika yg ramai di sekitar Big Ben. Meskipun tingginya cuma 96 meter sebagai ujung utara Palace of Westminster, letaknya di tepi jalan membuat sosoknya dominan.

Lima menit menatap, jam yg jarum pendeknya 2,7 meter dan jarum panjangnya 4,3 meter ini berbunyi. Lima belas menit kemudian bunyinya lebih lama ketika menunuk pukul enam.

Banyak hal mampu dikerjakan di sekitar Big Ben. Salah satunya menatap ke arah Sungai Thames yg bergolak karena limpahan air hujan. Di seberang Big Ben, berputar London Eye yg menyala. Pantulan cahaya di permukaan sungai membuat London Eye seperti tengah bercermin.

Dengan tinggi 135 meter dan diameter 120 meter serta dibalut lampu ketika gelap, London Eye menjadi magnet berikutnya pemikat mata. Putaran London Eye dan jarum Big Ben seperti seirama dan memberi pesan. Hidup harus selalu begerak. Karena itu, kaki lantas melangkah menyusuri Westminster Abbey di sisi barat Big Ben.

Berjalan sekitar 300 meter, tempat pemberkatan pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton tahun 2011, Westminster Abbey ada di hadapan. Sepi karena malam dan tak ada kegiatan.

KOMPAS/ANTON WISNU NUGROHO Para pelancong dari berbagai negara menjadikan tempat penyeberangan di Abbey Road ini sebagai tempat foto. Di tempat ini, The Beatles membuat salah sesuatu cover albumnya.

Semua pagar terkunci. Hanya lampu-lampu kecil di taman dinyalakan. Muncul suasana hangat di London yg dingin dan berangin karena lampu-lampu taman berwarna keemasan ini.

Setelah puas menikmati kawasan ini, kaki melangkah kembali ke Trafalgar Square. Taksi hitam dan bus tingkat kali ini mencuri perhatian lagi karena stiker Wonderful Indonesia kelihatan melekat.

Sejak 31 Oktober-30 November 2016, Indonesia menjadi sponsor penting World Travel Market London 2016. Menyarungi dua taksi hitam dan bus tingkat merah adalah bagian dari sponsor itu.

19.30

Tiba di Trafagar Square, toko buku Waterstones yg ramai dan hangat jadi tujuan. Sambil mencari referensi dan menunggu teman, rencana dilanjutkan buat mencari makan malam. Tersebutlah rumah makan Four Sessons di kawasan China Town di sekitar Piccadilly Circus sebagai tujuan. Bebek peking andalannya disebut-sebut sebagai yg terbaik di dunia. Kami ingin membuktikan.

KOMPAS/ANTON WISNU NUGROHO Jalan-jalan penting di London berhias lampu menyambut Natal.

Menggunakan taksi hitam sekitar 20 menit, kalian menuju Piccadilly. Dari pusat keramaian ini, kita berjalan melintasi dahulu lalang orang menuju tempat makan. Di depan tempat makan, 12 orang tengah antre. Tempat makan beberapa lantai ini penuh.

Sekitar 15 menit antre di tengah keramaian orang lalu-lalang dan nyanyian sendu pemusik jalanan, kesempatan buat makan diberikan.

Satu meja dengan empat kursi yg berdempetan dengan meja yang lain diperuntukkan untuk kami. Karena ramai dan penuhnya, lutut para pengunjung mampu saling bersinggungan. Dingin udara di luar lenyap karena makanan dan terutama ramainya ruangan.

21.30

Selesai menikmati bebek peking dan bercengkerama dengan teman-teman lama, kita melanjutkan perjalanan. Jalan-jalan ini kelihatan bersemangat sekali menyambut Natal. Untaian lampu yg membentuk sosok malaikat bersayap dibentangkan di antara gedung-gedung tua yg jadi pusat belanja.

Di ruas jalan seperti di Oxford Circus, lampu-lampu itu membentuk ribuan bola-bola berbagai ukuran seperti bintang. Langit seperti dekat.

KOMPAS/ANTON WISNU NUGROHO London Eye di tepi Sungai Thames ketika malam. Posisinya berseberangan dengan Big Ben yg menjadi salah sesuatu ikon London.

Menyenangkan menikmati malam dengan berjalan kaki di trotoar yg lapang. Karena sambil berjalan, dingin udara tak terlalu menggigit tulang. Menjelang tengah malam, bersamaan dengan tutupnya pusat-pusat belanja, kalian pulang. Sebelum tidur, aku menyiapkan tenaga bagi rencana pagi berikutnya.

19 November 2016

Pagi di musim gugur adalah pagi yg malas. Meskipun pukul 07.00, langit masih kelabu. Sabtu pagi di pusat Kota London masih sepi. Daun-daun kering yg baru jatuh terbawa angin dan hempasan kendaraan yg lewat. Beberapa daun tertempel di aspal karena terlindas ban dan membentuk motif unik di ruas-ruas jalan yg dingin.

Setelah sarapan, hari terakhir di London diawali dengan membeli tiket harian segala moda angkutan umum di stasiun terdekat dari hotel, Charing Cross. Dengan tiket serharga 17.20 Pounds (sekitar Rp 300.000), tiap orang mampu naik segala transportasi publik di London selama 24 jam.

Tujuan pertama adalah Portobello Market. Sabtu pagi yg cerah karena matahari yg ramah adalah ketika yg tepat menumpang bus tingkat merah yg ikonik ke Portobello. Duduk di kursi paling depan di lantai atas adalah pilihan terbaik buat menikmati pemandangan Kota London. Matahari yg akan muncul kelihatan bersahabat.

09.30

Tiba di Portobello Market bersamaan dengan gairah para penjual barang-barang antik dan makanan membuka dagangan. Pasar yg berdiri di ruas jalan permukiman yg ditutup ini telah ramai pengujung. Makin siang, apalagi cuaca cerah, Portobello makin ramai dan padat.

KOMPAS/ANTON WISNU NUGROHO Dinding-dinding di sepanjang Portobello jadi tempat memajang karya-karya seni. Di dinding itu, para pelancong menggunakannya sebagai latar balakang foto.

Sebelum tengah hari adalah ketika terbaik menjelajah Portobello karena badan masih dapat leluasa bergerak tak terhalang kerumunan dan kepadatan orang di ruas jalan sekitar 500 meter. Berbagai barang antik dijual. Jika mencari oleh-oleh unik, Portobello adalah surganya.

Jika lapar, banyak camilan dan makanan yg baru selesai diolah dijajakan. Musisi jalanan dengan berbagai alat musik di tiap persimpangan tidak mengurangi suasana perayaan mulai hidup. Beberapa pelintas berhenti, menikmati, bergoyang, bahkan ikut bernyanyi menggantikan vokalis yg butuh jeda.

13.00

Sehari penuh terasa tak cukup di Portobello. Namun, rencana harus dilanjutkan. Sebelum meninggalkan Portobello, Nottinghill Bookshop yg terkenal di film Nottinghill (1999) yg dibintangi Hugh Grant dan Julia Roberts jadi tujuan. Terletak di 142 Portobello Road, pintu birunya jadi obyek foto banyak pengunjung.

Setelah mengambil gambar, sambil bergegas meninggalkan Portobello, tujuan selanjutnya adalah Abbey Road dengan bus tingkat merah. Di penyeberangan jalan paling terkenal di dunia itu, The Beatles yg gondrong dan becelana cutbray menyeberang jalan bagi sampul album dengan judul Abbey Road (1969).

Di pertigaan jalan ini, puluhan orang dari berbagai negara tiba khusus menunggu ketika tepat menyeberang bagi minta difoto seperti The Beatles. Karena jalan ramai, aktivitas turis ini kerap dikeluhkan pengguna jalan. Namun, umumnya pengendara maklum dan sabar memberi kesempatan.

KOMPAS/ANTON WISNU NUGROHO Trafalgar Square pada Sabtu pagi yg cerah ketika musim gugur.

16.00

Bersamaan dengan datangnya gelap, kita menuju stasiun kereta api bawah tanah atau metro menuju Museum Modern Tate di pusat Kota London. Kereta bergerak cepat. Ditambah jalan kaki menuju museum yg memakai tiang listrik bercat oranye sebagai petunjuk jalan, kalian datang di museum yg ramai.

Tujuan pertama adalah toilet. Bersih, lapang, dan gratis. Setelah lega, kalian memilih dua lokasi bagi dikunjungi seperti ruang koleksi lukisan Picasso dan Salvador Dali. Meskipun segala gratis, pengelola museum mendorong pengunjung berdonasi agar museum tetap gratis.

Bagi yg tak suka mengapresiasi karya seni, museum ini mampu jadi tempat singgah atau istirahat sejenak. Pilihan oleh-oleh berdasarkan karya seniman dapat diperoleh di dua art shop. Tempat makan yg nyaman dan hangat dapat jadi pilihan melepas lapar dan penat.

17.30

Natal yg mendekat digarap museum buat menggelar bazzar di taman yg menghadap Sungai Thames. Banyak makanan hangat dan enak dijajakan. Makan malam di tempat ini jadi pilihan sambil merancang pulang melintasi Millenium Bridge yg khusus diperuntukkan buat pejalan kaki.

Selama perjalanan, banyak dijumpai orang dari berbagai budaya dan negara. Menurut survei, lebih dari 300 bahasa terucap di London karena keragaman ini. Hal itu terbukti.

KOMPAS/ANTON WISNU NUGROHO Menikmati karya seni di Tate Modern Museum yg hangat di London. Karya seniman dunia diproduksi sebagai kenang-kenangan bagi pengunjung.

Saat hendak menunggu bus tingkat menuju hotel, terdengar ujaran Bahasa Indonesia dengan logat Surabaya yg kental dari seorang anak. Bersama ayah dan ibunya, anak itu tengah menikmati libur di London. Mereka ada di Inggris karena sang ayah tengah kuliah lantaran beasiswa.

Mendengar logat dalam percakapan singkat selama menunggu bus, rindu tanah air makin terasa. Setelah datang di hotel, Bandar Udara Heathrow jadi tujuan. Perjalanan padat sehari menjelajah London menjadi bekal tidur dalam perjalanan panjang menuju Jakarta via Dubai.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *