Mengingat Kembali “Bhinneka Tunggal Ika” Di Devdan Show, Nusa Dua

Mengingat Kembali “Bhinneka Tunggal Ika” Di Devdan Show, Nusa Dua

NUSA DUA, KOMPAS.com – Saat Soekarno mencanangkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan negara, Sang Proklamator tahu betul betapa Indonesia adalah negeri yg kaya.

“Berbeda-beda tetapi tetap satu”begitu kira-kira arti Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah simbol dari lapang dada dan toleransi, satu yg dibutuhkan masyarakat Indonesia ketika ini. Salah sesuatu tempat buat mengingat kembali filosofi tersebut adalah Nusa Dua, Bali.

Di kawasan tersebut terdapat teater Devdan Show, pertunjukan yg mengusung tema “Treasure of the Archipelago”. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki ratusan suku namun semuanya bernaung di bawah kibaran bendera Merah Putih.

“Devdan berasal dari beberapa kata Sansekerta yakni deva dan dhana, yg artinya ‘anugerah Tuhan’,” tutur General Manager Devdan Show, Handari Himawan kepada KompasTravel di Nusa Dua, Bali, dua waktu lalu.

Devdan Show adalah salah sesuatu destinasi rekomendasi Google App. Selama tujuh hari akan 18-25 Desember 2016, wisatawan dapat mengikuti kampanye #SelaluTauYangSeru dan mendapatkan aneka kejutan di tempat-tempat yg bekerja sama dengan Google Indonesia.

BACA JUGA: Yuk Ikutan, Kampanye 7 Hari #SelaluTauYangSeru di Bali

Devdan Show digelar empat kali dalam seminggu yakni pada Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Pertunjukan digelar pukul 19.30 Wita.

“Pertujukan ini menggambarkan betapa kaya negeri kita. Pulang dari sini, pengunjung mulai merasa bangga dengan Indonesia,” tutur Handari.

Tarian Daerah dan Atraksi

Ruangan teater terbagi menjadi empat kelas tempat duduk: VIP, kelas A, kelas B, dan kelas C. Usai aku menempati tempat duduk persis di bagian tengah teater, pertunjukan pun dimulai.

Kisah ini berawal dari beberapa anak kecil, sesuatu perempuan dan sesuatu laki-laki, yg tersesat di hutan belantara Bali. Mereka melihat sebuah gunung, kemudian mendaki ke bagian puncaknya. Di puncak tersebut terdapat peti harta karun yg berisi aneka macam benda pusaka.

Benda pertama: udeng alias ikat kepala laki-laki khas Bali. Pertunjukan pun dimulai. Latar panggung berubah menjadi pedesaan khas Pulau Dewata. Tari Lesung dibawakan oleh sederet penari pria dan wanita, lengkap dengan alat penumbuk padi yg melambangkan rasa syukur atas berkat Tuhan atas hasil panen yg diberikan. 

DEVDAN SHOW Devdan berasal dari beberapa kata Sansekerta yakni deva dan dhana, yg artinya ‘anugerah Tuhan’.

Pertunjukan dari Bali diakhiri oleh Tari Kecak, yg mengisahkan pertempuran antara Rama dengan Rahwana. Selanjutnya, beberapa anak kecil tersebut menemukan songket khas Sumatera.

Para penari, lengkap dengan perangkat tenun songket segera memadati panggung. Pada adegan Sumatera, penonton juga disuguhi Tari Saman khas Aceh tepatnya dataran tinggi Gayo. Pertunjukan dilanjutkan dengan Tari Hujan dan atraksi Solo Aerial yg memesona.

Benda ketiga yg ditemukan dalam peti harta karun adalah keris. Salah sesuatu benda khas masyarakat Jawa itu yaitu senjata yg digunakan sejak zaman kerajaan. Keris yaitu identitas budaya yg menyimbolkan status sosial, kejantanan, juga tingkat magis atau spiritual.

BACA JUGA: Blusukan ke Tabanan, Melihat Rumah Tradisional Khas Bali

Pada adegan Jawa, penonton disuguhkan Tari Prajurit yg yaitu simbol kegagahan dan kekuatan para prajurit Jawa. Salah sesuatu pertunjukan yg paling spektakuler adalah Wayang Kulit. Usai menontonnya dari depan, lantai panggung pun berputar sehingga kami mampu melihat dalang dan bagaimana proses memainkan wayang kulit. Luar biasa!

Benda keempat adalah terompet kerang. Ini adalah salah sesuatu alat musik tradisional Kalimantan yg semakin punah. Beberapa wanita menarikan tarian khas Dayak. Ada juga Tari Air, merepresentasikan Kerajaan Kutai Kertanegara yg menjadikan sungai sebagai sarana menggerakkan perekonomian waktu itu.

Pertunjukan lainnya yg juga spektakuler adalah Duo Aerial Strap. Jika sebelumnya atraksi ini cuma dikerjakan oleh sesuatu orang, kini pasangan pria dan wanita berduet melakukan aerial strap.

DEVDAN SHOW Devdan Show digelar empat kali dalam seminggu yakni pada Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Pertunjukan digelar pukul 19.30 Wita.

Benda terakhir adalah koteka. Penutup alat kelamin pria khas Papua ini mencerminkan wilayah di pulau tersebut. Beda daerah, beda lagi bentuk kotekanya.

Panggung seketika dipenuhi oleh honai (rumah adat Suku Dani di Lembah Baliem). Tarian Papua, lengkap dengan alat musik khas yakni Tifa (semacam gendang) memenuhi panggung.

Dari awal hingga para kru berbaris mengucapkan terima kasih, pertunjukan berlangsung sekitar 90 menit. Perpaduan tari tradisional dengan atraksi mendebarkan sukses menghipnotis pengunjung. Tata cahaya dan musiknya, aku akui, memberikan nilai tambah dalam pertunjukan ini.

BACA JUGA: Di Bali, Ada Pohon Beringin Berusia Lebih dari 500 Tahun

Tiket Devdan Show mampu didapatkan akan Rp 520.000 buat kelas C sampai Rp 1.560.000 bagi kelas A. Anda boleh membawa kamera dan memotret pertunjukan. Namun di dua adegan seperti Aerial Strap, Anda tak dibolehkan mengambil gambar.

Satu saran saya, bawalah syal atau jaket karena ruangan teater cukup dingin. Saya teringat kata-kata Handari sebelumnya, bahwa pengunjung mulai keluar ruangan dengan rasa bangga.

Saya pun keluar ruangan teater dengan wajah berseri-seri. Tak sabar rasanya mengeksplor Indonesia hingga ke sudut-sudutnya.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *