Melongok Ibadah Marari Sabtu-nya Parmalim

Melongok Ibadah Marari Sabtu-nya Parmalim

MEDAN, KOMPAS.com – Pagi yg indah ketika kalian sampai di Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Tepat di depan terminal bus yg juga bersatu dengan pasar tradisional, seorang ibu telah menggelar dagangannya. Ada lontong dan lappet (penganan terbuat dari tepung beras, kelapa dan gula merah khas Batak).

Tujuh jam menempuh perjalanan dari Kota Medan membuat aku lapar, sesuatu porsi lontong sayur dengan perkedel yg nikmat mengisi lambung, dan cukup mengenyangkan.

Menumpang kamar mandi sebuah hotel bertingkat tiga, kalian beberapa rombongan jurnalis membersihkan diri bergantian.

Pukul 10.00 WIB, kita menuju Desa Sibadihon di Kecamatan Bonatua Lunasi, ke bale parsantian Ulupunguan Oppu Rugun Naipospos. Kami mulai mengikuti ibadah Marari Sabtu-nya umat Parmalim.

Parmalim adalah sebutan buat para penganut Ugamo Malim, agama leluhurnya Suku Batak. Sebutan Parmalim dinabalkan setelah Raja Sisingamangara ke XII mangkat. Sebelum pergi, dia menitahkan ajaran ini bagi diteruskan kepada Raja Mulia. Ihutan Ugamo Malim, itulah gelarnya.

Sampai hari ini telah beberapa generasi Naipospos yg menggantikannya. Agama ini berpusat di Huta Tinggi tepatnya di Desa Pardomuan Nauli, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Ditandai dengan berdirinya bale pasogit yg tak ada di daerah lain.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Bale Parsantian Huta Tinggi, umat Parmalim usai ibadah Marari Sabtu.

Berdasarkan data 2015, umat Parmalim berjumlah 1.334 kepala keluarga (KK) atau 5.555 jiwa tersebar di 20 provinsi di Indonesia. Ada enam KK di areal kompleks bale pasogit, sementara di Kabupaten Toba Samosir ada 11 cabang atau 11 ulupunguan.

Untuk Provinsi Sumatera Utara, ruas (umat) Parmalim mampu ditemui di Kota Medan, Deli Serdang, Simalungun, Samosir, Toba Samosir, dan Tapanuli Utara.

“Sudah menikah apa belum?” tanya seorang perempuan bersanggul cepol, sanggul khas Batak.

Saya menjawab sudah. “Kalau telah menikah, harus pakai ulos. Kalau belum, pakai sarung biasa saja. Nanti kalau masuk ke rumah ibadah harus melepas alas kaki, ya..” katanya sambil menyerahkan ulos dan selendang kecil yg juga terbuat dari ulos kepada saya.

Para perempuan yg tiba beribadah, semuanya mengenakan kebaya, berkain dan selendang ulos. Kaum pria mengenakan jas, berkain ulos dan mengenakan tutup kepala seperti sorban.

Kalau belum menikah, kaum pria tak mengenakan tutup kepala dan jas, sementara yg perempuan cuma mengenakan sarung biasa tanpa selendang.

Ada yg unik di bale parsantian ini. Di gang pintu masuknya, berdiri sebuah masjid, di mana masjidnya bersih dan cantik.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Seorang ruas Parmalim mengenakan ulos sebelum beribadah Marari Sabtu. Di depan pintu masuk parsantian mereka, berdiri masjid yg megah, Sabtu (17/12/2016).

Seorang pria yg kalian temui usai menunaikan ibadah mengaku tak pernah ada gesekan antara umat Muslim dan Parmalim. Mereka telah hidup berdampingan sangat lama, saling menghargai dan menghormati kuncinya.

Kembali ke bale parsantian, tepat pukul 10.00, ulupunguan Jintar Naipospos membawa dupa yg telah dibakar ke dalam bale parsantian. Diikuti oleh segala ruas.

Mereka masuk sesuatu persatu dan segera duduk bersila, secara otomatis membentuk shaf perempuan di sebelah kanan. Jintar berdiri di barisan paling depan, di depan meja yg di atasnya dupa.

Di dinding tepat sepemandangan matanya, tergantung foto para ihutan. Pada sudut ruangan bersegi empat berukuran 7 x 7 meter dan berjendela lebar-lebar itu, ada lemari kecil berisi piring dan gelas. Di bagian paling atas ada ceret besar dan mangkuk dari keramik putih berisi aek pangurason.

Lapat-lapat suara Jintar akan memanjatkan doa-doa dalam bahasa Batak. Para ruas diam dalam hening, khusuk mendengar bait-bait doa yg dirapal. Kepalanya tertunduk, mata tertutup dan tangan bersidekap di dada.

Hampir 30 menit dia berdoa. Pada akhir ibadah ada kalimat-kalimat doa yg usai dibaca diikuti oleh para ruas.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Ibadah Marari Sabtu umat Parmalim.

Selesai sesi doa, sang ulupunguan dulu mengambil aek pangurason dan memercik-mercikkannya ke para ruas. Setelah itu, beberapa orang muda-mudi mengambil ceret dan gelas kecil yg telah tersedia, menuangkan air ke gelas dulu membagi-bagikannya.

Yang pertama meminumnya adalah ulupunguan. “Ini air perasan jeruk purut, telah diberkati, minumlah. Semoga kami diberi kebaikan dan ketenangan menjalani kehidupan,” kata ibu yg berada di samping saya.

Dalam hitungan detik, air itu mengalir di tenggorokan saya, rasanya seperti meminum air perasan lemon. Tapi wangi jeruk purut lebih khas.

Setelah itu, ulupunguan mengatakan poda atau nasihat-nasihat. Semuanya dalam bahasa Batak.

Usai beribadah, aku baru mampu bertanya, apa isi doanya tadi. “Kami tadi berdoa bagi saudara-saudara kalian di Aceh yg sedang menerima musibah bencana gempa. Penderitaan masyarakat Aceh juga penderitaan kita masyarakat Parmalim. Kita sama-sama sebagai anak bangsa. Kami juga mendoakan agar Indonesia lepas dari bencana. Semoga saudara-saudara kita di Aceh, tabah menghadapi cobaan dari Tuhan,” kata Jintar, Sabtu (17/12/2016).

Dia meminta pemerintah fokus memberikan bantuan pangan dan percepatan rehabilitasi terdampak bencana. Kedatangan Presiden Jokowi ke lokasi bencana sangat diapresiasinya. Dia berharap musibah ini menjadi bahan introspeksi diri segala warga negara dan bersama-sama menjaga kebhinnekaan Indonesia.

KOMPAS.com/Mei Leandha Berbondong-bondong masuk ke parsantian

“Kami Parmalim meyakini bencana tiba karena kesalahan manusia. Kita terus diingatkan buat menjaga bumi dan isinya. Saat ini, bumi rusak akibat ulah manusia. Ini yg harus kalian renungkan,” kata dia.

Berbagai polemik yg pemantik kisruh bangsa diharapkannya cepat mereda. Dia mengajak semua elemen masyarakat mau bersama-sama menyudahi seluruh intrik yg mengancam perpecahan. Kasihan generasi muda menyaksikan bagaimana karut-marutnya Indonesia sekarang.

“Kami Parmalim terus berdoa semoga kami tetap sesuatu bangsa, tetap bersama-sama, tetap saling menjaga. Jangan mau dipecah belah. Kami di sini, jauh dari ibu kota, selalu menjaga toleransi dan keberagaman antar umat beragama dan etnis. Kenapa yg di sana tidak? Ayolah saling merangkul dan ariflah kami bersikap, agama dan keyakinan kalian semuanya mengajarkan kebaikan,” ucap Jintar.

Iwan Darmawan, peneliti kebhinnekaan sekaligus dosen di Universitas Pakuan Bogor yg ikut bersama kita menambahkan, Bhinneka Tunggal Ika yg dilahirkan Mpu Tantular di zaman Kerajaan Majapahit mampu terjaga utuh seandainya segala lapisan masyarakat paham dan terpanggil buat merawat empat pilar kebangsaan.

“Empat pilar kebangsaan itu adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Pasti ancaman perpecahan tak perlu ditakuti karena tak mulai terjadi,” kata mahasiswa program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia ini.

Maka, kegiatan menemui komunitas-komunitas kecil yg kerap terpinggirkan dan terkesan jarang dipikir dan perhatikan pemerintah seperti Parmalim perlu dikerjakan anak bangsa, karena kelompok ini terkadang justru menjadi tolok ukur dalam menjaga toleransi dan keberagaman.

“Pemerintah tidak jarang tak sadar bahwa budaya kami tercermin di komunitas kecil yg termarjinalkan seperti Parmalim. Pemerintah jangan cuma sibuk meredakan fenomena yg memicu ketakutan mulai perpecahan bangsa, tetapi komunitas kecil yg selalu menjaga nilai-nilai luhur kebangsaan dilupakan. Mestinya mereka dimunculkan buat menjadi contoh,” ucap Iwan.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Berdiskusi usai beribadah.

Ugamo Malim berisi ajaran-ajaran kebaikan dan sangat mencintai perdamaian. Ini kelihatan dari doa dan perilaku ruas-nya. Mereka lebih memilih diam saat dipinggirkan, dihilangkan haknya bagi memilih agama dan kepercayaan yg mereka yakini oleh negara. Mereka tak melawan ketika hak-hak sebagai warga negara diabaikan, tidak dipenuhi.

Sebelum kembali ke Medan, kalian dijamu seorang ruas bermarga Sitorus. Tikar digelar di ruang tamunya yg luas, segala anggota keluarga ikut berbaur. Hidangan yg disajikan, ayam napinadar. Ini masakan khas Batak yg biasanya dihidangkan pada acara-acara adat.

Dia menuangkan nasi ke dalam piring dengan porsi jumbo, wow… Nasi dari padi yg ditanam sendiri membuat aromanya begitu membangkitkan selera. Apalagi sambal andaliman dengan perasan jeruk perut, alahmak enaknya.

Hidangan lain, ada gulai ayam kampung, sambal ikan mujair dan rebusan sawi. Kami makan begitu lahap, sampai dua teman berkali-kali menambah. Cuci mulutnya, ada pepaya yg dipetik dari halaman depan rumah. Nikmatnya tinggal di kampung.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *