Kisah Pilu Di Balik Secangkir Kopi Kawa Khas Payakumbuh

Kisah Pilu Di Balik Secangkir Kopi Kawa Khas Payakumbuh

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebagai minuman, kopi dibuat dari biji tanaman kopi yg diolah sedemikian rupa. Hasilnya yaitu minuman dengan warna yg pekat, rasa yg dalam, serta aroma yg khas.

Namun di Payakumbuh, Sumatera Barat, kopi tak diolah dari biji melainkan daun tumbuhan kopi. Minuman khas tersebut dinamakan “kopi kawa”.

KompasTravel mendapati minuman kopi yg terbilang langka ini di Festival Jajanan Minang 2016 yg digelar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (11/12/2016). Salah sesuatu stan, Amer’s Keik punya Andhian Nurmala atau akrab disapa Mala adalah sesuatu satunya stan yg menjual kopi kawa.

“Ini kopi khas dari Payakumbuh. Sebenarnya ada cerita sedih di balik kopi ini,” kata Mala.

BACA JUGA: Akhir Pekan di Jakarta, Berburu Kuliner Langka di Festival Jajanan Minang

Ia kemudian bercerita, kopi kawa dibuat oleh masyarakat Payakumbuh ketika zaman penjajahan Belanda. Tepatnya ketika kebijakan tanam paksa diberlakukan kepada masyarakat.

“Mereka menanam tetapi tidak dapat minum kopi karena seluruh biji kopi diambil oleh Belanda. Akhirnya bagi mengurangi rasa sakit hati, diambillah daun-daun kopi itu, diasap kemudian dikeringkan dan direbus. Jadilah kopi kawa,” papar Mala kepada KompasTravel.

Menurut Mala, kopi kawa ini telah semakin langka. “Di Jakarta hanya ada sesuatu kedai. Kalau di Payakumbuh sendiri masih ada. Saya sendiri membeli daun kopi kawa ini segera dari Payukumbuh,” katanya.

Untuk mengolah kopi kawa, daun kopi yg telah diasap dan dikeringkan cuma perlu direbus di panci tanah liat.

“Harus panci tanah liat. Kalau panci alumunium takutnya bereaksi,” kata Mala.

BACA JUGA: Baru 5 Jam Festival Jajanan Minang Dibuka, Makanan Sudah Ludes Terjual

Untuk tidak mengurangi rasa nikmat kopi kawa, Mala menambahkan kayu manis dan gula merah yg sebelumnya sudah dicampurkan dengan cengkeh. Kata Mala, kopi kawa sangat baik buat orang yg memiliki kadar kolesterol tinggi.

“Hanya saja (minumnya) yg original, jangan dicampur gula. Minumnya seperti teh saja. Sehari boleh lebih dari sekali,” kata Mala.

Saya mencicipi rasa kopi kawa dan rasanya sangat unik. Lebih mirip teh dibanding kopi. Warna cokelatnya tak lebih pekat daripada kopi, dengan kedalaman rasa yg lebih berat ketimbang teh.

Rasa asap sangat kental, hasil dari pengasapan daun kopi. Mengonsumsi kopi kawa tidak menimbulkan reaksi pada lambung atau jantung yg berdegup kencang layaknya meminum kopi biasa. Kopi ini juga minim kafein.

Namun seandainya ingin merasakan sensasi minum kopi yg berbeda, jelas kopi kawa patut dicoba. Secangkir kopi kawa dihargai Rp 10.000 di stan Amer’s Cake.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *