Ketika Australia Dan Indonesia Bertemu Di “Air Terjun Jatuh Ke Palung”

Ketika Australia Dan Indonesia Bertemu Di “Air Terjun Jatuh Ke Palung”

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Australia Council For The Arts bekerja sama dengan seniman Banyuwangi dan Sekolah Tinggi Kesenian Wikwatikta (STKW) menggelar aksi teatrikal yg berjudul “Air Terjun Jatuh di Palung” (The Waterfall Plunged in to the Abyss).

Acara yg digelar di Gelanggang Seni Budaya (Gesibu), Banyuwangi, Jumat (9/12/2016) tersebut dapat menghipnotis ratusan penonton selama 1,5 jam.

Art performing tersebut didukung dengan seni instalansi, permainan lampu warna warni, multimedia yg menampilkan gambar-gambar hidup akan dari api, air terjun, ombak laut, percikan air hujan, bulan, hingga video orang yg sedang menari.

(BACA: Wow… Ada Bakso Hamil dan Beranak di Banyuwangi)

Musik khas Banyuwangi, kuntulan dan penyanyi gandrung, Supinah serta dua pemain asing yang berasal Australia juga ikut tampil dalam pertunjukan yg digarap oleh Bambang N Karim.

Laki-laki yg akrab di panggil Mas B kepada KompasTravel menyampaikan persiapan buat pertunjukan yg melibatkan sekitar 30 orang tersebut membutuhkan waktu sekitar 6 bulan tetapi bagi riset telah dia lakukan hampir selama 2 tahun.

“Latihan 3 bulan di Surabaya dan 3 bulan terakhir di Banyuwangi karena berkolaborasi dengan musik kuntulan punya seniman Banyuwangi pak Sahuni di Singonjuruh termasuk penyanyi gandrung Supinah yg menjadi cameo dengan menyanyikan lagu daerah berbahasa Using,” kata Mas B yg lama tinggal di Australia tersebut.

Alat musik Jidor dan terbang atau rebana yg biasa dimainkan dalam kesenian kuntulan sangat dominan menjadi latar belakang pertunjukan tersebut.

“Air Terjun Jatuh di Palung” menceritakan tentang waktu yg dicuri dari dunia sehingga mengancam keseimbangan kehidupan. Waktu disimbolkan oleh bulan yg dimakan oleh Kala. Untuk merebut kembali waktu, maka sekelompok manusia harus mempelajari mantera Banyuwangi bagi mengembalikan keberadaan Sang Bulan sehingga kehidupan kembali normal.

“Sekelompok manusia digambarkan terdampar di Pantai Grajagan Banyuwangi, dulu mereka menyanyi lagu Banyuwangi, menari, serta membaca lontar agar waktu mampu direbut kembali,” jelas Mas B.

Dia mengaku tak menampilkan kesenian asli Banyuwangi seperti tari Gandrung namun mengambil simbolnya seperti penggunaan selendang merah dan kaus kaki warna putih yg digunakan penari Gandrung.

“Saya tak mulai bikin Gandrung, karena buat aku seniman Banyuwangi lebih baik dari saya. Karena background pendidikan aku adalah seni kontemporer, maka ini yg aku angkat. Ini adalah upaya aku memperkenalkan Banyuwangi ke tingkat internasional,” kata laki-laki berkacamata tersebut.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Penampilan ‘Air Terjun Jatuh di Palung’ yg ditampilkan di Gesibu Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (9/12/2016).

Walaupun tak lahir di Banyuwangi, Mas B mengaku jatuh cinta pada Banyuwangi dan mempelajari kesenian dan budaya yg ada di ujung timur Pulau Jawa.

Perkenalan pertama kali dengan Banyuwangi adalah saat seorang teman memberikan kaset lagu yg dinyanyikan Sumiati, penyanyi daerah Banyuwangi yg legendaris dua tahun yg lalu.

“Sejak ketika itu aku jatuh cinta pada Banyuwangi. Bagi aku Banyuwangi adalah salah sesuatu kabupaten di Jawa Timur yg tradisinya tak pernah hilang. Tradisi ini terus diturunkan dan sangat kental terasa antar generasi,” katanya.

Karya yg berhasil dipentaskan di Banyuwangi ini disebut Mas B sebagai interdisipliner art. Sebelumya pada tahun 2014 dia pernah menggelar pertunjukan serupa dengan judul ‘Sungai’ di Yogyakarta.

“Orang bebas menerjemahkan seperti apa saja tentang karya ini. Semua perpaduan tari, nyanyi, dan unsur teknologi di dalamnya aku persembahkan buat masyarakat Banyuwangi. Dalam waktu dekat aku mulai pentaskan ‘The Waterfall Plunged into The Abyss’ ini di Toronto dan Australia,” katanya.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *