Kala Turis Enggan Hadir Di Gerbang Asia-Eropa

Kala Turis Enggan Hadir Di Gerbang Asia-Eropa

DUA peristiwa mengenaskan yg menimpa Turki pada awal tahun ini—serangan mematikan di kelab malam Reina di kota Istanbul dan serangan bom di kota Izmir— sepertinya bakal menjadi pukulan telak untuk negeri itu.

Tidak saja untuk keamanan, tapi juga perekonomian makro. Di sektor pariwisata, turis asing bisa-bisa semakin enggan berkunjung ke pintu gerbang antara Asia dan Eropa itu.

Jumlah turis asing yg berkunjung ke Istanbul dan Turki secara umum anjlok sekitar 25,9 persen menjadi 9,2 juta orang sepanjang 2016.

Merujuk data yg dirilis Istanbul Culture and Tourism Directorate, awal tahun ini, penurunan jumlah turis ke kota itu menjadi yg pertama terjadi sejak tahun 2000.

(BACA: Lihatlah Turki Pasca Kudeta…)

Sebanyak 4,44 juta turis asing mengunjungi Turki pada paruh pertama tahun dahulu dan 4,71 juta orang lainnya pada paruh kedua.

Namun, Desember tahun lalu, jumlah turis asing yg berkunjung ke negeri itu juga turun sekitar 18 persen secara tahunan. Memang ada penurunan angka dari tingkat penurunan terparah yg terjadi pada Juni yg tingkat penurunannya secara tahunan mencapai 35,2 persen.

Namun, patut diingat, kenaikan kunjungan turis asing ke Turki secara tahunan pada tahun dahulu cuma terjadi pada Januari. Kenaikannya pun relatif tipis, sekitar 0,1 persen.

Turis asing yg berasal dari daratan Eropa menjadi turis yg paling banyak berkunjung sepanjang tahun lalu. Jumlahnya mencapai 3,9 juta orang.

Selanjutnya adalah turis yang berasal Timur Tengah, yakni mencapai 2,3 juta turis, disusul wisatawan yang berasal Asia, Afrika, Amerika Utara, Amerika Latin, dan Oceania.

Dilihat dari yang berasal negara, turis yang berasal Jerman ”menguasai” jumlah kunjungan dengan persentase mencapai 10,9 persen sepanjang tahun lalu. Berada di belakang warga Jerman adalah warga Iran (7 persen), Arab Saudi (5,2 persen), Inggris (4 persen), Perancis (3,9 persen), Amerika (3,5 persen), dan Rusia (3,2 persen).

Keamanan memang lekat dengan potensi kunjungan turis, di luar potensi negara atau wilayah yg memang layak menjadi tempat wisata.

KOMPAS/BUDI SUWARNA Monumen Kemerdekaan di Alun-alun Taksim, Kamis (8/9/2016). Ketika kudeta militer dilancarkan pada 15 Juli lalu, Taksim menjadi salah sesuatu titik terpanas di Istanbul.

Indonesia yg menjadikan Pulau Bali sebagai tulang belakang penopang penting kunjungan turis, misalnya, pernah mengalami getirnya anjloknya kunjungan turis pasca diguncang beberapa kali bom bunuh diri pada 2002 dan 2005.

Relatif beruntung, perekonomian Bali kemudian bangkit seiring dengan membaiknya perekonomian nasional yg turut didorong kenaikan harga komoditas global. Hal itu menjadikan wisatawan lokal-asing relatif sejajar fungsinya sebagai pendorong perekonomian setempat.

Tantangan berat menghadang Turki saat-saat ini setelah mengalami ekspansi ekonomi tahun-tahun sebelumnya.

Selain akibat meningkatnya gangguan keamanan, menurut CNBC, reformasi ekonomi tidak lancar dan ketidakpastian politik negeri itu dapat tidak mengurangi runyam politik hingga ekonomi negeri tersebut.

Angka proyeksi Dana Moneter Internasional yg memperkirakan terjadinya kontraksi ekonomi Turki sekitar 2,9 persen tahun ini dapat lebih buruk. Kegagalan penanggulangan aksi terorisme mulai semakin mempersulit pemulihan ekonomi. (BENNY D KOESTANTO)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Januari 2017, di halaman 9 dengan judul “Kala Turis Enggan Hadir di Gerbang Asia-Eropa”.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *