Jalan Kaki Menyusuri Taman Sekitar Kusatsu Onsen

Jalan Kaki Menyusuri Taman Sekitar Kusatsu Onsen

KUSATSU, KOMPAS.com – Bagaimana cara menikmati keindahan kota Kusatsu di Prefektur Gunma, Jepang ketika musim dingin?

Cobalah jalan kaki karena menyehatkan dan menghangatkan tubuh. Sambil berjalan, badan terus bergerak, mata memandang alam sekitar dan udara segar menerpa tubuh.  

Jumat (2/12/2016), KompasTravel dan empat travel agent di Indonesia yg diundang Tokyo Rail Days dalam program famtrip ke Jepang bagi memperkenalkan paket wisata ‘Kanto Buffet’ sengaja memilih berjalan kaki bagi melihat dan merasakan suasana di kota Kusatsu yg terkenal dengan onsennya itu.

(BACA: Kusatsu Onsen, Permandian Air Panas Terkenal di Jepang)

“Awas licin, es, hati-hati,” kata Nomoto Takayuki selaku Managing Director SMI Travel Indonesia kepada KompasTravel saat memulai perjalanan di Kusatsu.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Suasana Kusatsu Onsen di Prefektur Gunma, Jepang, Jumat (2/12/2016).

Meski waktu memperlihatkan pukul 10.00 temperatur udara berkisar 5 derajat celcius. Di jalan-jalan masih kelihatan sisa-sisa salju yg turun semalam. Maklum, bulan Desember yaitu musim dingin di Jepang.

Walaupun sang mentari memancarkan sinar, toh udara dingin begitu terasa menusuk-nusuk tubuh padahal telah berbalut jaket tebal. Brrr…. dinginnya.

(BACA: Yumomi, Tradisi Mendinginkan Air Panas di Kusatsu Onsen)

Kami berjalan menuju Sai No Kawara Park yg letaknya tidak jauh dari Yubatake yg dikenal sebagai kolam air panas yg menjadi simbol Kusatsu Onsen. Yubatake ini dapat menampung 4.000 liter air panas.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Kotak pos kuno di Kusatsu Onsen, Prefektur Gunma, Jepang, Jumat (2/12/2016).

Air panas tersebut berasal dari sumber air panas alami di kaki Gunung Shirane pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) yg mengalir ke Yubatake melalui saluran yg terbuat dari kayu dan bermuara di kolam penampungan.

Menyusuri jalan yg cukup bagi beberapa mobil berpapasan itu tidak ubahnya seperti kalian diajak mengenal lebih dalam kehidupan masyarakat Jepang di pedesaan yg jauh dari keramaian kota.

Sepanjang jalan menuju taman Sai No Kawara, pandangan mata terus mengarah ke toko-toko yg menjual suvenir dan rumah-rumah penduduk yg rata-rata berukuran mungil.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Sai No Kawara Park di Kusatsu Onsen, Prefektur Gunma, Jepang, Jumat (2/12/2016).

Bisa dikatakan, sulit menemukan rumah berukuran besar atau mewah di sini. Rumah-rumah di Kusatsu hampir seragam, berukuran kecil dan sederhana.

Demikian pula mobil yg parkir di samping rumah juga berukuran kecil.

Saking asyiknya berjalan, tanpa sadar posisi berjalan mengambil tengah jalan. “Tit! tit!” klakson mobil berbunyi di belakang.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Sai No Kawara Park di Kusatsu Onsen, Prefektur Gunma, Jepang, Jumat (2/12/2016).

“Awas mobil!” teriak Antonius Prima Setyawan, Tour Coordinator Wendy Tour yg menemani rombongan travel agent selama berada di Jepang.

Tak melulu bertemu toko-toko suvenir, sering kalian melewati toko yg menjual makanan. Tiba-tiba rombongan kalian didekati pegawai toko makanan dengan ramah menawarkan makanan buat dicoba. Gratis!

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Tawaran coba bakpao gratis sebelum memasuki Sai No Kawara Park di Kusatsu Onsen, Prefektur Gunma, Jepang, Jumat (2/12/2016).

Laki-laki tersebut dengan bahasa Jepang menawarkan makanan. Kami pun tidak menolak buat mencobanya. Hmmm enak… Rasanya mirip bakpau.

Tak cuma bakpau, pegawai toko itu juga menyodorkan nampan yg berisi dua cangkir teh hijau. Wow… dingin-dingin begini ketemu minuman panas? Justru ini yg dicari.

“Itu sejenis bakpau yg isinya kacang merah,” kata Prima menjelaskan soal makanan tadi.

Nikmat benar rasanya. Ditawari gratis lagi. Bahkan wisatawan yang lain tidak membuang-buang waktu berlagak atau berpura-pura seperti karyawan tadi memegang bakpau dan meminta keluarganya bagi mengambil gambar. Senyum lebar kelihatan di wajahnya.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Sebuah kuil di Sai No Kawara Park, Kusatsu Onsen, Prefektur Gunma, Jepang, Jumat (2/12/2016).

Memasuki taman Sai No Kawara, udara dingin semakin menusuk. Pengunjung taman seakan tidak peduli dengan dinginnya udara siang itu.

Sepanjang perjalanan memasuki taman, di sisi jalan mengalir juga air panas dari sumbernya langsung. Air panas inilah mengalir dan ditampung di Yubatake.

Nemoto mengajak teman dari Dwidaya Tour, Panorama Tour, dan Golden Rama Tour bagi merendam tangan di air panas itu. Nemoto mendekati kolam air panas dan berjongkok sambil merendam tangannya. Memang nikmat merendam tangan yg kedinginan di air panas. Tangan terasa hangat.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Wisatawan merendamkan tangannya di air panas di Sai No Kawara Park, Kusatsu Onsen, Prefektur Gunma, Jepang, Jumat (2/12/2016).

Kadang kalian melewati kuil di sepanjang jalan. Sementara di ujung taman kelihatan kolam air panas berukuran besar.

Di pinggir kolam, pengunjung duduk-duduk sementara kakinya berendam di kolam air panas.

Sungguh nikmatnya membenamkan kaki di kolam air panas Sai No Kawara Park. Di sekeliling kolam menjulang pohon-pohon yg masih menyisakan daun berwarna merah sisa-sisa musim gugur.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Wisatawan di Sai No Kawara Park, Kusatsu Onsen, Prefektur Gunma, Jepang, Jumat (2/12/2016).

Berjalan kaki selama sesuatu jam di Sai No Kawara Park telah cukup menikmati betapa indahnya alam Jepang pada musim dingin.

Tak heran bila nama Kusatsu Onsen sangat terkenal di kalangan wisatawan luar negeri dan warga Jepang.

Selain berendam di air panas yg disebut-sebut menyehatkan tubuh, ternyata mata juga disegarkan oleh pemandangan di taman ini.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Wisatawan di Sai No Kawara Park, Kusatsu Onsen, Prefektur Gunma, Jepang, Jumat (2/12/2016).

Pikiran pun melayang-layang membayangkan ketika taman ini memasuki musim gugur, di mana daun-daun berwarna warni. Sangat bagus buat menjadi obyek foto dan terus diburu wisatawan.

Apa pun musimnya, Sai No Kawara Park yg memerlukan perjalanan sekitar 3 jam dengan kereta api dari Tokyo dan dilanjutkan dengan bus Kanto ke Kusatsu Onsen ini terus menarik buat dikunjungi wisatawan.

 

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *