Hangatnya Racikan Kopi Berpadu Rempah

Hangatnya Racikan Kopi Berpadu Rempah

UDARA dingin merayapi raga ketika malam bertambah larut di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Adam Musi dari Veco Indonesia, lembaga pendamping petani kopi di Pulau Flores, bersama Kompas bergegas menuju warung dengan dinding bambu, Kafe Mane. Tujuannya satu, membeli kopi panas bagi menghangatkan tubuh.

Kafe Mane memang menyediakan sejumlah minuman kopi. Ada kopi lanang, kopi jahe, kopi arabika Bajawa dan Manggarai, serta espresso hasil campuran arabika dan robusta.

Pilihan pun jatuh pada kopi lanang dan kopi jahe dengan harapan hangatnya jahe mulai langsung membuyarkan dingin dalam tubuh.

Kopi jahe di Kafe Mane memiliki racikan unik. Pemilik warung kopi, Bony Oldam Romas (66), mengatakan, kopi jahe yaitu paduan kopi dan rempah.

Kopi arabika diseduh bersama rebusan jahe, batang serai, kayu manis, cengkeh, lada, gula merah, dan kunyit. ”Semua campurannya adalah hasil racikan sendiri,” kata Bony, Agustus 2016 lalu.

Rasa kopi dan semua racikan rempah tersebut terasa pekat dan menyatu. Bony menambahkan kunyit karena manfaatnya yg mengikat segala rasa di dalamnya.

Kopi lanang atau peaberry coffee disebut begitu karena bentuk bijinya berbeda dengan kopi pada umumnya. Kopi lanang berbiji tunggal dan bulat, tak terbelah seperti bentuk biji kopi kebanyakan.

Untuk mendapatkannya harus dipilih sesuatu per sesuatu mana yg berbiji tunggal. Tentu biji kopi lanang yg mampu diperoleh cuma sedikit dari sekian banyak butiran kopi.

Dari sisi rasa dan aroma, sebenarnya kopi lanang tak jauh beda. Hanya saja, rasa pekatnya sedikit lebih padat. Yang lebih dirasakan juga sensasinya menikmati kopi yg diolah dari biji kopi tunggal yg langka. Kopi lanang dipercaya memiliki khasiat memperkuat stamina dan meningkatkan daya konsentrasi.

Setelah memesan, pembeli di Kafe Mane bisa melihat bagaimana pramusaji menyajikan kopi yg mereka pesan. Setiap kopi yg sudah disangrai baru mulai digiling setelah pesanan masuk.

Kemudian bubuknya diseduh dalam cangkir. Barulah dihidangkan. Sajian minuman kopi pun menjadi begitu segar (fresh).

”Kopi bubuk harus terus digiling baru sebelum diseduh agar aroma dan rasanya masih sangat terasa,” kata Bony.

Budaya ”ngopi”

Menjelang pukul 22.00 Wita, sekelompok wisatawan yang berasal Inggris masuk di sudut yang lain kafe. Ada lagi sejumlah anak muda baru datang. Mereka memilih bangku di luar.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *