“Blusukan” Ke Tabanan, Melihat Rumah Tradisional Khas Bali

“Blusukan” Ke Tabanan, Melihat Rumah Tradisional Khas Bali

TABANAN, KOMPAS.com – Bali memiliki ragam obyek wisata. Mulai dari wisata nomor wahid, seperti pantai, pegunungan hingga kehidupan tradisional masyarakatnya. Soal laut dan gunung di Bali, wisatawan tentunya telah tidak perlu lagi digambarkan.

Namun bagaimana soal wisata tradisional? Dari segi fisik, Bali memang memiliki ciri khas adat tradisional sendiri. Salah satunya soal rumah-rumah dengan arsitektur dan model bebatuan yg kental dengan pura, tempat ibadah umat Hindu Bali. Sayangnya, tidak banyak yg tahu bagaimana permukiman khas masyarakat Bali.

Beruntung, kini ada sebuah tempat wisata yg khusus buat memperkenalkan sisi khas kehidupan tradisional masyarakat Bali. Tempat wisata itu bernama Rumah Desa yg terletak di Desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Butuh sekitar waktu 50 menit bagi mencapai lokasi tersebut dari Bandara Internasional Ngurah Rai.

(BACA: Pedas “Krenyes” Sambal Matah Khas Bali)

Rumah Desa menyuguhkan wisata menarik. Saat memasuki tempat itu, pengunjung mulai diajak buat kembali ke permukiman Bali tempo dulu. Pengunjung mulai disuguhi minuman selamat tiba berupa jahe campur rosela. Setelah itu mulai diajak bagi membuat canang dan ramuan obat tradisional.

KOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYA Pura keluarga di Rumah Desa, Kabupaten Tabanan, Bali, Sabtu (17/12/2016).

Suguhan menarik lainnya adalah rumah khas keluarga Bali. Biasanya, masyarakat tradisional Bali memiliki rumah dengan lahan luas yg terdiri dari dua bangunan.

Pemandu wisata Rumah Desa, Demon, menyampaikan setidaknya ada lima bagian dari rumah adat Bali. Bagian pertama yaitu bangunan buat tetua. Bangunan ini biasanya ditempati para orangtua yg dituakan di keluarga tersebut.

Di bangunan itu cuma ada beberapa kasur dan tertutup kelambu. Selain itu juga cuma bagian belakang dan atap bangunan yg tertutup.

Kemudian bagian lainnya adalah bangunan bagi bulan madu. Bangunan berbentuk rumah ini khusus buat mereka yg baru menikah. Selanjutnya adalah tempat buat tamu menginap.

KOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYA Rumah buat tetua di lingkungan keluarga Bali di Rumah Desa, Kabupaten Tabanan, Sabtu (17/12/2016).

Setelah itu ada dapur yg juga memiliki bangunan lumbung sebagai tempat menaruh bahan-bahan masakan. Terakhir adalah tempat buat berdoa. Tempat itu biasanya ditaruh di bagian depan halaman rumah.

“Lima bagian itu memiliki bangunan yg terpisah. Tujuannya bila ada musibah kebakaran, maka tak segera merembet,” kata Demon kepada KompasTravel di Tabanan, Bali, Sabtu (17/12/2016).

Usai menikmati suguhan minuman hangat dan tur keliling rumah, pengunjung mulai diajak bagi memasak. Tempat ini memberikan kesempatan kepada para wisatawan memasak kue khas Bali.

Proses memasak itu dikerjakan akan dari pemilihan bahan di dapur. Proses memasak pun dikerjakan secara tradisional. Setelah beraktivitas hampir seharian, Rumah Desa mulai menghidangkan santap siang khas Bali.

KOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYA Warga membuat ramuan obat-obatan tradisional di Rumah Desa, Kabupaten Tabanan, Bali, Sabtu (17/12/2016).

Hidangan pembuka berupa soto pepaya ikan. Kemudian menu penting akan dari ayam betutu, sate lilit, daging sapi kecap dengan sambal khas Bali seperti sambal matah. Sementara itu, hidangan penutup disediakan pisang goreng, bubur ketan hitam, dan buah semangka.

Selain wisata mengelilingi di rumah adat, Rumah Desa juga menyediakan paket lainnya seperti berbelanja di pasar tradisional, trekking, hingga membajak sawah. Kegiatan itu dimasukkan dalam paket sebagai bagian bagi memperkenalkan kembali aktivitas masyarakat tradisional di Bali kepada khalayak luas.
Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *