Hari yang indah, itu semestinya. Tapi bisa jadi sebaliknya, bila di awal hari seorang suami marah-marah karena sang istri lupa membangunkan lebih awal, padahal rapat penting di kantor akan dimulai pagi-pagi sekali. Atau seorang pelajar harus menerima hukuman, berdiri di depan kelas karena lupa membawa PR nya. Juga seorang atasan yang tidak bisa untuk tidak marah pada staffnya yang lupa mengirimkan email penting kemarin sore, sebelum pulang kerja.
Anda pernah melihat kejadian seperti yang saya tuliskan di atas? Atau bahkan Anda mengalaminya sendiri?
LUPA. Satu hal yang manusiawi. Setiap orang pernah mengalami. Namun tidak setiap orang bisa menyikapi dengan cara yang sama. Kejadian di atas misalnya, bukan sebuah kesengajaan bila seorang istri tidak membangunkan sang suami lebih awal, sesuai permintaanya sebelum tidur. Banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan termasuk menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak membuat ia benar-benar lupa untuk membangunkan suami lebih awal agar datang di rapat kantor tepat pada waktunya.
Juga bukan karena berani, bila seorang murid tak membawa PR yang sudah ia kerjakan jauh-jauh hari. Bagiamanapun, tatapan tajam sang guru, bentakan bahkan hukuman berdiri di depan kelas adalah hal yang menyebalkan sekaligus memalukan. Demikian pula sang staff, tidaklah mungkin ia mempertaruhkan karirnya dengan sengaja tidak mengirimkan laporan melalui email, seperti yang diinstrusikan atasannya. Semua terjadi karena satu alasan, yaitu lupa. Sayang, meski bukan sebuah kesengajaan, terkadang orang tak mau tahu dan memilih marah sebagai jawabannya.
Terlepas dari semua efek yang ditimbulkan, haruskah lupa ditanggapi dengan marah, marah dan marah? Menurut saya, tidak! Mengapa? Pertama, lupa adalah hal yang lumrah, manusiawi, setiap orang pernah mengalami. Jika saat itu orang lain lupa, maka bukan tidak mungkin kemarin atau besok kitalah yang lupa. Kedua, ini yang sering terlupa bahwa lupa adalah juga sebuah nikmat yang Allah berikan kepada kita.
Tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu sia-sia, tanpa guna. Tidak mungkin! Apa yang ada pada diri kita, sesungguhnya adalah nikmat, termasuk lupa tentunya. Coba bayangkan, bagaimana jadinya bila kita tidak dianugerahi nikmat lupa. Sepanjang umur kita akan tersiksa karena tidak bisa melupakan peristiwa pahit di masa lalu. Atau sepanjang umur kita menjadi malas karena terlena oleh indahnya kenangan di masa silam. Juga kita akan menjadi seorang pendendam karena tidak bisa melupakan kesalahan yang orang lain pernah lakukan. Di sinilah lupa sebagai nikmat yang saya maksudkan, dan ini pula yang sering kita lupakan.
Jadi, tidak seharusnya lupa selalu ditanggapi dengan marah. Lihatlah dulu apakah alasan lupa memang benar demikian adanya ataukah hanya alasan untuk menyelamatkan diri saja. Jika benar-benar karena tidak sengaja, mengapa harus marah-marah? Lumrah, manusiawi, cobalah untuk mengerti. Berikan kesempatan, kepercayaan bahwa ia tidak akan mengulangi apalagi menjadikan kebiasaan. Kecuali kalau selalu lupa, itu mah di sengaja! Yang ini bukan kata saya, tapi kata Bang Haji Rhoma Irama :)




aku setuju denganmu, marah hanya menambah permasalahan saja.
BalasHapusSaya pernah mengalaminya Mas,,dan Alhamdulillah sempat marah tapi setelah sadar tenyata ngapain marah² percuma toh semua sudah terjadi hehehe
BalasHapusSalam....
teman saya kuliah pernah berfilosofi kalau kita marah-marah karena sesuatu kejadian apakah keadaaan akan kembali seperti sebelumnya? Marah2 tidak akan membuat segalanya jadi beres...malah capenya setengah mati bi setelah selesai marah2...
BalasHapussetuju abi,,
BalasHapusseperti yang pernah dijabarkan sama siapa ya kemaren, lupa saya... (tuh kan lupa juga), saya pun sependapat dengan abi, bahwa lupa itu sebenarnya jg nikmat dari Allah. tak bisa dibayangkan jika kita tidak dikasi sifat lupa, mungkin kenangan2 pahit yang seharusnya tak perlu diingat lagi demi kebaikan di masa mendatang, malah terus saja menghantui. Kan itu jadinya malah berbahaya.. Jadi apapun itu, lupa harus disikapi dengan bijak, karena itu merupakan salah satu nikmat Allah
sering mengalami siswa lupa bawa PR mas, hehehehe, tapia ada juga yang tiap munggu alasan lupa, terus besok suruh antar ke lab, lupa lagi, sampai minggu depannya masih lupa, ternyata ga ngerjain PR sebenarnya.
BalasHapusTerkadang saya harus marah, dalam arti marah mendidik, bukan marah emosi.
tapi ga pengen marah sih :)
benar juga tuh, saya baru baca disini kalau lupa kadang-kadang penting juga untuk melupakan kejadian pahit, pastilah tiap orang punya kejadian yang harus dilupakan. Allhamdulillah suami gak mterbanarah kalau saya lupa :-D dimaklumi istrinya punya kerjaan rumah banyak. tapi ada yang bilang kurang dzikir makanya lupa,bener gak ya?
BalasHapusBener... aku beruntung jika bisa melupakan hal2 yg tak perlu dalam hidupku... supaya memoriku tidak cepat penuh hehehe
BalasHapussepakat Mas Abi, lupa itu juga adalah nikmat dr Allah swt bagi kita hamba NYA.
BalasHapusnamun, dlm keseharian kadang lupa bisa berakibat fatal, inilah mengapa kita hrs waspada utk hal2 tertentu yg membuat kita atau bahkan orang lain jd ikut teraniaya krn lupa ini .
renungan yg sangat indah, Mas Abi
terimakasih krn telah berbagi
salam
Assalamu'alaikum,,, kang...
BalasHapusSalam kenal...
Al insanu makhalul khoto'u wa nisyan,,,, ya ?
setuju dee...
Assalamu'alaikum,,, kang...
BalasHapusSalam kenal
Al insanu mahalul khoto'u wa nisyan,,, ya..?
Setuju dee....
Betul. Marah bukan pilihan yang tepat untuk menyelesaikan masalah, justru bisa menimbulkan masalah baru.
BalasHapusBetul, semua sudah terjadi, ambil hikmah dan pelajaran darinya.
BalasHapusBetul sekali, Bang. Marah tidak menyelesaikan masalah.
BalasHapusBetul, Mas Ruri. Sikapilah lupa dengan bijak, jangan langsung marah-marah, seolah kita tidak pernah lupa.
BalasHapusMarah untuk mendidik itu memang perlu, Bu. Terutama kepada meraka yang menjadikan lupa sebagai kebiasaan. Seperti salah satu syair lagu Bang Haji Rhoma Irama, kalau selalu lupa, itu mah di sengaja. :)
BalasHapusDengan memperbanyak zikir ( mengingat Allah ), maka ingatan kita akan terjaga. Insha Allah.
BalasHapusAmbil hikmah dan pelajaran dari sebuah kejadian, lupakan selebihnya yang tak bermanfaat.
BalasHapusBetul, Bunda. Meski lupa adalah wajar dan manusiawi, namun bukan berarti kita bisa menjadikannya alasan untuk tidak waspada, tidak tanggung jawab, tidak mengambil pelajaran dari kesalahan yang pernah dilakukan.
BalasHapusTerima kasih kembali, Bunda. Salam hangat untuk keluarga.
Waalaikumsalam.
BalasHapusSalam kenal kembali.
Helloo Kang Abi, thanks dah maen ke rumah keluargazulfadhli :-)
BalasHapushehehe, gw mah pelupa berat. Makanya laki gw udah mahfum dengan kelakuan bininya ini. Justru kalo ga kelupaan malah laki gw suka nanya "Bun, tumben kali ini lengkap semua bawaannya. Biasanya ada ajah yang kelupaan", sms yayang pas dinas luar, udah sampe di tujuan, pas buka koper
Salam metal buat Uncle Abi dari Double Zee
Lupa yang disengaja, atau lupa karena tidak ada kepedulian tentu beda dengan lupa yang memang bener-bener lupa...
BalasHapusSetuju dengan yang tidak boleh selalu marah karena seseorang lupa, karena dengan marah, yang terlupakan itu tetap aja tidak dibawa kan, Abi?
:)
gue banget nih, sering lupa sesuatu -.-'
BalasHapussuka banget tulisan ini abi...
BalasHapusSetuju Bi,terkadang emang suka Lupa..hihi
BalasHapusApalagi Papanya Olive hmm bawaannya lupa mulu..
Emang rada kesel dikit,tapi lama-lama mah jadi kebiasaan,
Sungguh terl..la..lu *bang haji Oma*..
Saya lupa mau ngomen apa.. :D
BalasHapusSalam kenal,, :-)
Wah ngefans juga ya sama Bang Haji Rhoma, sama deh :) Lupa itu nggak memandang usia. Setiap orang pasti pernah mengalaminya baik anak-anak, remaja maupun yang sudah lanjut usia dan juga bukan karena sudah beruban. Uban tidak bisa dijadikan ukuran atau sebab dia pelupa, baik itu ubannya sedikit atau banyak :) Banyak yang mereka udah beruban tapi daya ingatnya masih kuat, sebaliknya banyak dari mereka yang umurnya masih muda tapi sering lupa. Nah loh, kok jadi membicarakan uban ya :) Tapi ada kejadian aneh n lucu nih. Ini kisah nyata, bukan mengada-ada. Pernah seorang suami sampai lupa meninggalkan istrinya di pasar ketika mereka belanja, gara-gara suaminya ketemu teman lama trus ngobrol sampai lupa kalau ke pasar bersama istrinya. Baru sadar kalau istrinya nggak ada setelah nyampek rumah :) Nggak apa-apa sih lupa tapi kalau pura-pura lupa, nah itu yang bahaya :) Its OK tulisannya. Jazakumullah telah berbagi :)
BalasHapusLupa itu nikmat kalo itu murni lupa.
BalasHapusLupa itu sendiri sudah menunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar manusia. Kalau sudah terlanjur tentu tak bisa lagi diulang. Kalau selalu lupa ya itu manusianya yang memang pelupa.
BalasHapusTerima kasih kembali, Mbak Susan. Bahagia silaturahim di sana, ada keceriaan sekembalinya dari sana. Alhamdulillah.
BalasHapusSalam hangat untuk dua ponakanku yang lucu-lucu.
Betul...betul...betul... Marah tidak menjadikan masalah kecuali menambahnya dengan masalah baru.
BalasHapussemoga tidak menjadi kebiasaan, bagaimanapun salah dan lupa adalah salah satu sifat manusia.
BalasHapusTerima kasih, semoga bermanfaat.
BalasHapusHehehe....
BalasHapusYa, sudah. Gpp, saya nda marah kok. Nanti kalau sudah inget, silahkan kembali lagi. Hehehe...
BalasHapusSalam kenal kembali.
Ngefans banget sih tidak, hanya kebetulan tahu lagu ini.
BalasHapusSst......jangan ngomongin uban, ada yang trauma bercermin gara-gara uban. Hehehe...
Lupa sama istri gara-gara bertemu teman lama? Sungguh ter la lu! Hehehe...#ikut gaya Mama Olive.
Betul, tapi kalo pura-pura lupa, bisa jadi musibah ya, Kang.
BalasHapusKarena lupa itu lumrah dan manusiawi, jangan selalu marah-marah, tapi coba pahami dan mengerti. Insha Allah.
BalasHapusLupa itu lumrah dan manusiawi, karenanya jangan mudah marah bila orang lain lupa, cobalah untuk mengerti dan memahami. Insha Allah.
BalasHapusdia lupa? Lalu kita marah karena merasa di rugikan dgn sifat lupa dia hehe...
BalasHapusNah mungkin saja dia marah lbh pada sebuah warning atau peringatan supaya tidak lupa lagi atau kebanyakan lupa, karena lupa juga merupakan suatu penyakit yang bsa berpotensi merugikan org lain. lupa juga kadang menjadi sebuah alasan yg normatif. Utk mencegah supaya tdk gampang lupa kita harus banyak berdzikir sehingga hati kita selalu terjaga dgn tanggung jwb kita sendiri. Mudah2an bsa di koreksi kalo tulisan sya salah hehe.. Sya cuma mo belajar dari banyak tulisan. Salam :)
nah ini dia...saya tuh orangnya pelupa sangat....tapi cukup pasang muka memelas ga jadi kena marah deh.... hehehe... :D
BalasHapusPak, nyela dikit boleh? :D
BalasHapusSebetulnya tentang lupa akan hal2 kepahitan, itu bukan sepenuhnya lupa, tapi waktulah yang membiasakan. Seperti kasus tahun 2009 *apa coba? yah gak tahu :D
Salah dan lupa itu adalah hal yang manusiawi. Sebab seperti kata orang bijak "Manusia itu tempatnya salah dan lupa". Hanya saja, yang salah adalah kita tidak belajar dari kesalahan atau kelupaan itu. Kita justru menikmati kesalahan dan kelupaan tersebut. Sehingga, pada kesempatan lain, kita akan mengulangi kesalahan dan kelupaan yang sama. Ini yang tidak baik..
BalasHapusSebuah permenungan yang arif sekali Abi..
Syukran :)
Hehehe...kalau keseringan memelas malah bikin gemas. :)
BalasHapusKasus tahun 2009? Apa yah? saya merasa nda punya kasus je.! Hehehe...
BalasHapusBetul sekali, Uda. Terima kasih atas tambahannya. Sungguh, membuat tulisan ini menjadi bermakna.
BalasHapusdhe juga sering lupa mas, hahaha, lupa naroh kunci yang paling sering.. :D
BalasHapustapi bener, dan setuju banget.. jangan selalu menanggapi lupa dengan marah, toh orang yang lupa juga tidak ingin kalo dirinya lupa.. semoga kita selalu diberikan daya ingat yang kuat yaa mas
Hehehe, ini penyakit saya. Seringkali lupa membuat saia jengkel setengah mati karena pekerjaan terbengkalai, atau janji terbaikan. Namun terkadang lupa malah menjadi berkah. Hehehe...
BalasHapusAmin. Dengan banyak mengingat Allah maka daya ingat kita akan terpelihara dengan baik. Insha Allah.
BalasHapusNah, itu dia. Tidak semua lupa itu harus disikapi dengan tindakan negatif, lihat dulu duduk perkaranya.
BalasHapus