14 Apr 2014

Akhirnya Bangsal Itu Terisi Juga

Pemilu legislatif telah ‘sukses’ dijalankan. Hasilnya pun sudah mulai kelihatan. Siapa yang menang dan siapa yang kurang mendapat dukungan. Bagi yang menang, sudah tentu pemilu ini terasa sangat manis dan memuaskan. Tapi bagi yang kalah, ini adalah hal yang menyakitkan. Lebih dari itu, para caleg yang tidak memperoleh banyak dukungan pada pemilu kemarin, ternyata banyak yang tidak bisa menerima kenyataan. Sering diberitakan di tv bahwa ada beberapa caleg yang gagal dalam pemilu kemarin kemudian stress, depresi, bahkan ada yang meninggal dunia akibat shock atau sengaja mengakhiri hidupnya lantaran tak kuasa menanggung ‘derita’.

Sayang, sungguh sangat disayangkan, karena pada kenyataannya bangsal-bangsal yang sudah disediakan rumah sakit khusus untuk para caleg yang gagal benar-benar terisi. Mengapa ini harus terjadi? Bukankah mereka sudah tahu resiko dari pencalonan mereka sebagai anggota legislatif. Bukankah tenaga dan harta yang mereka habiskan sudah mereka niatkan? Bukankah mereka sadar bahwa pencalonan mereka tidak sendiri, banyak calon-calon lain yang juga berkeinginan sama padahal jumlah yang dibutuhkan hanya sedikit? 

Sudahlah, tenaga sudah terlanjur dihabiskan. Harta sudah terlanjur di’hambur-hamburkan’, dan masyarakatpun sudah menentukan pilihan. Jangan sesali diri, bagaimanapun itu adalah perjuangan. Dan sebuah perjuangan memang seringkali dibarengi pengorbanan. Jangan pula salahkan masyarakat yang tidak memberikan dukungan. Justru, mari interospeksi diri, mengapa masyarakat tidak mendukung kita? Apa yang kurang dengan diri kita? Apa yang salah dengan program-program kita?. Hal ini lebih baik ketimbang ‘mencari-cari’ alasan, menyalahkan masyarakat yang tak memberi dukungan.
 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri